Wagub Hadiri Presentasi Teluk Buyat

Wagub Sulut Drs Djouhari Kansil, MPd menghadiri presentasi publik pemantauan lingkungan teluk buyat yang disampaikan oleh Panel Ilmiah Independen (PII), di hotel qualiti manado Sabtu (14/04).
Kegiatan yang turut dihadiri Menristek Suharna Surapratama selaku koordinator pemantauan lingkungan teluk buyat dan staf Ahli Menkokesra Wahsunarno itu, menurut Djouhari Kansil tujuan dibentuknya Tim PII adalah untuk memantau dan memeriksa kondisi lingkungan di areal pembuangan tailing sisa pertambangan PT. Newmont Minahasa Raya (PT NMR) disekitar teluk buyat.
Pemantauan ini dikatakan Kansil, berlangsung selama 10 tahun, sejak tahun 2007 sampai tahun 2016. Dimana setiap tahun PII berkewajiban menyusun program kerja pantauan, mengumpulkan data dan menghasilkan suatu laporan tahunan untuk disampaikan kepada publik seperti saat ini.
Kansil pun mengakui khusus, sektor pertambangan di sulut hingga kini masih sering mendapat tantangan dari masyarakat, walaupun memang dalam UUD 1945 pasal 32 diisyaratkan mengenai pemanfaatan kekayaan alam sebesar-besarnya demi untuk kemakmuran rakyat. namun tentunya perlu juga memikirkan dampak lingkungan bagi masyarakat, ujarnya.
Menristek Suharna Surapratama mengatakan, pemerintah indonesia dan TP NMR yang selanjutnya disebut para pihak, telah menyepakati suatu perjanjian itikad baikpada 16 februari 2006 lalu, untuk melaksanakan program pemantauan pasca tambang dan pembangunan berkelanjutan di sulut, yang difokuskan pada lingkungan dan masyarakat mitra. Salah satu butir dari isi perjanjian tersebut menurut, Surapratama yakni pembentukan PII nantinya mereka akan bertanggung jawab dalam mengembangkan dan melaksanakan program pemantauan lingkungan dan kesehatan selama 10 tahun di teluk buyat, katanya.
Surapratama menambahkan PII terdiri dari 6 orang pakar lingkungan yakni Prof. Dr. Magdalena Irene Umboh, DEA dari Unima selaku koordinator, Prof. Dr Amin Subandrio PhD dari UI, Thomas Shepherd PhD dari Shepherd Consulting Inc. Fort Collins Colorado USA, Prof. Dr. Ir. Inneke F.M Rumengan, MSc dari Unsrat, Keith William Bentley PhD dari Centre For Environmental Health, Pty. Ltd, Australia dan Dr. Achmad Sjarmidi, Msi, DEA dari ITB.
Dari hasil presentase tersebut, Prof Magdalena Umboh menyimpulkan data yang diperoleh sejak tahun 2007 s/d tahun 2010 ternyata tidak ada dampak negatif dari penempatan tailing di dasar laut teluk buyat bagi lingkungan laut maupun kesehatan manusia.(Kabag Humas Christian Sumampow, SH MEd selaku Jubir Pemprov Sulut).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: