Tampurung dan Gonovu Di Lirik Pengusaha Jerman

Buah kelapa yang diproduksi oleh petani kelapa kita di sulut di akuinya tidak semua dimanfaatkan dengan baik, Kebanyakan petani kelapa kita hanya menggunakan dagingnya untuk dijadikan kopra, sementara batuk kelapa (tampurung) dan sabuk kepala (gonovu) hanya dibuang percuma menjadi sampah atau sering dijadikan kayu bakar untuk masak oleh masyarakat. Padahal apabila hasil turunan buah kelapa tersebut dikelolahnya dengan baik akan medatangkan keuntungan besar bagi warga.
Hal itu dikatakan DR. Josef Tawardi dari Berlin Indonesia Bussines Council Germany (BIBC) yang turut mendampingi empat pengusaha jerman Robert Oefner Manajer China Buusiness Group, Jan Glazky dari Fluid Kooperacja S.A dan Gerhard Rieder dan Nobert Bernatzky dari Ribegla S.A yang mengadakan pertemuan dengan pemprov sulut, di ruang rapat keasisten II, Jumat (4/053).
Pertemuan yang turut dihadiri Atase Perdagangan Kedubes RI di Jerman Didi Sumedi dan mantan atase pendidikan Kedubes RI di Jerman DR. Linda Aliwarga dan Jusri Jusuf Dipl. Ing. Dari PT Greenworld Energi Nusantara. Dan dari pemprov mewakili Gubernur Sulut DR. Sinyo Harry Sarundajang adalah Kadis Perindag Drs Sanny Parengkuan, MAp. Juga hadir Kepala Bapedda Sulut DR. Noldy Tuerah, Kadis Tamben Ir Boy Tamon, Kaban Lingkungan Hidup Ir Olvie Ateng, MSi, Kadis PU diwakili Ir henky Manumpil, MSi dan Karo perekonomian Drs Adri Manengkey, MSi.
Menurut Tawardi, sulut merupakan provinsi pertama di indonesia yang dipilih melakukan kerjasama di bidang bio massa (sampah berbagai jenis kotoran) ini, karena dari hasil penelitian Kedubes Jerman di Indonesia yang dilakukan selama satu setengah tahun, daerah ini banyak tersedia bahan bio massa untuk dijadikan tehnologi bio karbon (arang) seperti sampah kelapa, sampah kotoran hewan serta sampah yang berasal dari semua tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Dan ini merupakan perintah langsung Dubes RI di Jerman Eddy Pratomo, untuk menerapkan tehnologi ini di sulut. Alasan inilah sehingga kami melakukan pertemuan dengan pihak terkait di pemprov sulut.
Tawardi mengakui khusus di indonesia penerapan tehnologi ini baru akan dilaksanakan di provinsi sulut. sementara negara-negara lain seperti Dubai, Thailand dan Cina sudah menggunakannya. Sebab bio karbon dapat dijadikan komoditi ekspor ke luar negeri, terutama ke negara-negara eropa. Terkait keputusan dunia lewat Deklarsi Kyoto tahun 2007 lalu, menyangkut Climate Change (perubahan iklim) dari sembilan butir komitmen yang ada, dunia wajib menciptakan lingkungan yang ramah, pengurangan polusi dan emisi gas rumah kaca di setiap kota masing masing negara.
Tehnologi bio karbon menjadi salah satu solusi alternatif bagi negara eropa untuk melaksanakan deklarasi Kyoto. karena selain ramah lingkungan harga perton juga masih lebih murah tiga kali lipat dibanding dengan harga batu bara di eropa. Jika bio karbon harganya kurang lebih 60 – 90 dolar perton sementara batu bara mencapai 150-180 euro perton, dan ini sangat mahal. ujarnya.
Tawardi mengakui, 52 persen negara eropa hingga kini masih menggunakan batu bara untuk dijadikan (power plan) sebagai sumber tenaga energi listrik. Bio karbon ini nantinya akan dicampur dengan batubara, sehingga bisa mengurangi polusi yang ada, katanya. Ia menambahkan dengan menggunakan bio karbon diharapkan tahun 2011 sudah 10 persen campurannya, tahun 2014 musti 15 persen campurannya dan tahun 2020 musti 20 persen campurannya. (Jubir Pemprov. Drs Roy Tumiwa, MPd).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: